Hijack Terbaru yang Mengingatkan Tentang Tragedi Wijster
Sebelumnya, Apple TV+ telah menghadirkan Hijack Season 1 (2023), yang menyoroti tentang pembajakan pesawat oleh teroris. Dimana Idris Elba tampil sebagai Sam Nelson, yang berperan sebagai negosiator ulung dengan kemampuan diplomasi dan strateginya, yang berinisiatif untuk menyelamatkan lebih dari 200 penumpang dan London. Musim perdana ini sukses memikat penonton dengan format real-timenya, yang menampilkan intrik kriminal Cheapside Firm serta dilema moral yang menekan sang tokoh utama.
Memasuki Hijack Season 2 (2026), latar pun berpindah ke kereta bawah tanah di Berlin. Sam pun kembali menghadapi krisis, namun kali ini dengan ancaman bom di gerbong yang menjerat keluarganya. Serial delapan episode ini memperlihatkan respons cepat otoritas Jerman, yang dipimpin oleh Chief Ada Winter. Dimana ketegangannya kini meningkat lebih personal, dan menyoroti ruang sempit kereta sebagai arena negosiasi yang berbahaya.
Kejadian di serial tersebut mengingatkan tentang pembajakan kereta Wijster pada 2 Desember 1975. Dimana, tujuh pemuda Republik Maluku Selatan (RMS) membajak kereta Groningen–Zwolle sebagai bentuk protes atas janji kemerdekaan yang dianggap semu. Aksi ini berlangsung 12 hari dan menewaskan tiga sandera termasuk masinis Hans Braam. Bahkan, jasad korbannya dibuang ke rel sebagai bentuk tekanan. Situasi pun berakhir pada 14 Desember, ketika para pelaku menyerah dan sebagian tewas.
Tragedi tersebut kemudian diangkat kedalam film yang berjudul Wijster (2008), yang disutradarai oleh Paula van der Oest. Film berdurasi 90 menit ini menyoroti perspektif jurnalis Rob van der Laan yang menjadi sandera, serta dilema keluarganya di luar kereta. Dengan atmosfer otentik 1970-an, film ini merekonstruksi ketegangan psikologis antara pembajak dan sandera, sekaligus menyoroti kompleksitas politik di RMS. Wijster sendiri kini menjadi pengingat penting bagi publik Eropa tentang bahaya terorisme berbasis ideologi dan dampaknya terhadap masyarakat sipil.